Sinau Urip

Sekitar jam 18:30 (setelah maghrib), saya pergi naik motor astrea untuk mencari makanan rujak lontong petis. Tidak sengaja saya menemukan makanan tersebut di seseorang yang dimana saya pandang itu sangat sederhana. Setelah melihat warung itu, saya bergegas untuk mampir dan membeli rujak. Setelah makan saya sempatkan guyonan  dengan seorang kakek dan sedikit ada pembicaran dengan tema kehidupan masa sekarang. Kakek itu ngomong pada saya bahwa kehidupan sekarang ini sangat-sangat berbeda dengan dulu, dan saya menanyakan alasan berbedanya kehidupan sekarang dengan kehidupan yang dulu. Kakek itu lalu menceritakan dengan berbahasa Jawa. 

"Lha yho mas jaman saiki wes bedo karo jaman biyen. Jan biyen ki pengajian kui bahasane tananan, ngaji tenanan. Lha wong saiki akeh pengajian Seng malah diakehi guyon e tinimbang seriuse. Alasan e jare lek ngajine tenanan nggarai ngantuk. Saiki kyai-kyai Seng ngaji barang mesti kenek tarif jutaan sampek puluhan juta. Malehne lek djajal diundang terus maringi duwek sitik pora yho langsung dirasani nek panggung" Ucap kakek itu dengan bahasa Jawa. 

Disini dapat saya pelajari lebih mendalam tentang perbedaan pengajian era dulu dan di masa sekarang. Bahwa di zaman sekarang pengajian lebih menggunakan guyonan dari pada pembahasan agama  yang luas dengan alasan jika tidak diiringi dengan guyonan maka pengajian tersebut menjadi garing atau para audiens merasa ngantuk ketika pengajiannya serius. 

Menurut saya pendapat dari seorang kakek penjual rujak lontong itu benar, akan tetapi perlu di perhatikan dari sisi yang lain. Di zaman sekarang atau bisa disebut dengan gen-Z, banyaknya para jamaah yang enggan mendengarkan/pergi ke suatu majlis dikarenakan  tidak ada yang dinamakan ice breaking sehingga para kaum ada dan hawa tidak ada yang menghadiri majelis.

Oleh karena itu ketika menghadapi suatu permasalahan tersebut. Maka, para penceramah atau para dai menggunakan cara bagaiamna kaum adam dan Jawa itu bisa untuk menghadiri majlis pengajian dan juga bisa mendapatkan ilmu dari acara tersebut. Para penceramah seperti gua iqdam menggunakan metode kajian yang dimana dianggap oleh sebagian orang tidak patut dicontoh, tetapi juga adc sebagian orang yang menganggapnya majlis tersebut sangat bermanfaat bahkan bisa membukakkan hati seseorang yang dulu sering berbuat hal yang mungkar perlahan kejalan yang benar. 

Semua orang memiliki perbedaan pandang terkait hal ini. Tetapi ada suatu dalil yang menjelaskan 








Komentar