Peradilan Masa Abu Bakar As-Siddiq

Pada masa pemerintahan Abu Bakar As-Siddiq, keadaan umat islam tidak jauh berbeda dengan massa Rasulullah saw sehingga tidak terlihat adanya perkembangan-perkembangan di dalam hukum islam, khususnya di dalam masalah peradilan. Keadaan peradilan di masa pemerintahan Abu Bakar As-Siddiq relatif sama dengan peradilan masa Rasulullah dan tidak ada suatu perubahan dalam lapangan peradilan. Hal ini disebabkan karena kesibukannya memerangi sebagian kaum muslimin yang murtad sepeninggal Rasulullah dan kaum pembangkang yang tidak menunaikan zakat dan urusan-urusan politik dan pemerintahan lainnya, di samping belum meluasnya kekuasaan islam pada masa itu.

Dalam suatu riwayat dikemukakan oleh Abu Bakar As-Siddiq, urusan peradilan diserahkan kepada Umar bin Khattab selama kutrang lebih 2 tahun. Tetapi, selama itu hanya terdapat dua orang yang berselisih dan mengadukan permasalahannya kepada Umar karena beliau dikenal dengan ketegasan yang dimilikinya. Baca Juga

Para ahli sejarah tasyri’ menjelaskan tentang bahwa Abu Bakar jika menghadapi perkara yang harus diputuskan beliau harus memperhatikan isi Al-Qur’an. Apabila beliau menemukan hokum Allah di dalam Al-Qur’an, beliau pun memutuskan dengan hukum Allah. Akan tetapi jika tidak ada hukum Allah terhadap masalah yang dihadapi, maka beliau memperhatikan sunnah Rasulullah atau keputusan-keputusan yang pernah diambil oleh Rasulullah. Jika beliau tidak menemukan di sunnah Rasul, maka beliau bertanya kepada para ahli Ilmu. Beliau mengatakan “saya menghadapi suatu perkara, apakah tuan-tuan ada yang mengetahui hukum Rasul terhadap perkara itu?”. Kerap kali berkumpul dihadapan beliau beberapa sahabat. Maka masing-masing mereka menerangkan apa yang mereka ketahui. Apabila Abu Bakar memperoleh keterangan dari orang-orang yang beliauu hadapi, beliau pun memuji Allah. Jika tidak ada yang mengetahui hukum nabi, maka beliau mengumpulkan para pemimpin untuk berembuk putusan apa yang diberikan. Jika mereka semua sependapat untuk menetapkan suatu hukum, maka beliau pun berpegang teguh pada putusan itu, dan inilah dasar ijma’. 

 

 

 Penulis:

M. Robith Syaifullah

Referensi: 

Muhammad Salam Madzkur, Al-Qadha Fil Islam, diterjemahkan oleh Drs. Imam AM dengan judul Peradilan dalam Islam (Cet. 4: Surabaya: Bina Ilmu, 1991), hal. 41.

Komentar